KERJASAMA USAHA DALAM BENTUK KSO (2)

Sebelumnya kami telah membahas mengenai Kerjasama Operasi (KSO) secara global. Namun, KSO sendiri terdapat beberapa bentuk yang biasa digunakan dalam praktik bisinis investasi. Adapun mengenai bentuk-bentuk operasional KSO yang sering digunakan oleh pelaku bisnis dan berdasarkan PSAK No.39, yaitu:

 

a)        Bentuk Bangun, Kelola, Serah (Build, Operate, and Transfer/BOT); dan

Investor

  • Investor membangun aset dan mencatatnya sebagai “Aset KSO pada Kas/Hutang”;
  • Investor mengamortisasi aset selama masa Konsensi;
  • Investor mengelola aset sehingga membayar bagi hasil dan mencatatnya sebagai “Beban KSO pada Kas/Hutang”;dan
  • Investor menyerahkan aset ke pemilik aset diakhir masa Konsensi.

Catatan:

Masa Konsesi adalah jangka waktu dimana investor dan pemilik aset masih terikat dengan perjanjian bagi hasil atau bagi pendapatan atau bentuk pembayaran lain yang tercantum di dalam perjanjian KSO.

Pemilik Aset

  • Pemilik Aset dapat menyerahkan aset untuk dikelola oleh investor dan mencatatnya sebagai “Aset KSO pada Kas/Hutang/Aset Tetap”;
    • Pemilik Aset tidak menggelola Aset KSO tetapi mendapatkan bagi hasilnya dan dicatat sebagai “Kas/Piutang pada Pendapatan KSO”; dan
    • Pemilik Aset bisa mendapatkan seluruh aset (Sesuai Perjanjian) dari Investor diakhir masa Konsensi.

b)        Bentuk Bangun, Serah, Kelola (Build, Transfer, and Operate/BTO).

Investor

  • Investor membangun aset dan mencatatnya sebagai “Aset KSO pada Kas/Hutang”;
  • Investor menyerahkan aset yang telah dibangunnya ke Pemilik Aset dan mencatatnya sebagai “Hak Bagi Pendapatan pada Aset KSO” (Nominal Base) dan aset diamortisasi selama masa Konsensi; dan
  • Selama masa Konsensi, investor menerima bagi hasil dari pemilik aset dan mencatatnya sebagai “Kas/Piutang pada Pendapatan KSO.”

Pemilik Aset

  • Pemilik Aset dapat menyerahkan aset dan dicatat sebagai “Aset KSO pada Kas/Hutang/Aset Tetap”;
  • Pemilik Aset menggelola Aset KSO secara Periodik membagi pendapatan dan mencatat sebagai “Beban KSO pada Kas/Hutang”;
  • Pemilik Aset bisa mendapatkan seluruh aset (Sesuai Perjanjian) dari Investor diakhir masa Konsensi.

Dua (2) bentuk tersebut di atas dapat dikombinasikan dengan Perjanjian Bagi Hasil (PBH) atau Perjanjian Bagi Pendapatan (PBP) dengan cara tertentu. Namun, konsep KSO pada dasarnya dapat diberlakukan dengan cara lain sesuai dengan kebutuhan para pelaku bisnis.

 Mengenal Kerjasama Operasi Dalam Investasi

Kepemilikan Aset

Berkenaan dengan hak milik aset yang digunakan dalam KSO, adalah Hak milik investor selama periode perjanjian KSO. Aset yang disertakan dalam KSO tidak terkena transaksi jual-beli, sehingga tidak dipungut PPN. Aset tersebut juga disusutkan berdasarkan masa manfaatnya. Pada akhir masa Konsensi (masa KSO) aset dapat dipindah tangankan merujuk pada perjanjian kedua belah pihak.

Aset yang diserahkan pemilik aset untuk diusahakan dalam perjanjian Kerjasama Operasi (KSO) harus dicatat oleh pemilik aset sebagai aset KSO sebesar biaya perolehannya. Apabila yang diserahkan untuk diusahakan dalam perjanjian KSO adalah hak penyelenggaraan usaha yang tidak memiliki biaya perolehan, maka pemilik aset hanya perlu mengungkapkan keberadaan transaksi tersebut.

Berdasarkan penjelasan mengenai KSO di atas, dapat dipahami bahwa mengenai kegiatan usaha yang ditawarkan kontraktor kepada Klien saya berupa investasi dengan mengadopsi dengan prinsip-prinsip kerjasama yang menyerupai KSO. Hal ini tentunya untuk menjadikan investasi tersebut lebih professional dalam pelaksanaannya.

KSO dapat diimplementasikan dengan prinsip syariah yaitu dengan skema Mudharabah. Mudharabah atau penanaman modal disini artinya adalah menyerahkan modal uang kepada orang yang berniaga sehingga ia mendapatkan prosentase keuntungan (nisbah). Bentuk usaha ini melibatkan dua pihak: pihak yang memiliki modal namun tidak bisa berbisnis. Dan kedua, pihak yang pandai berbisnis namun tidak memiliki modal. Melalui usaha ini, keduanya saling melengkapi.

Namun yang perlu dipahami, mudharabah ini sejatinya adalah profit-loss sharing. Jadi tak hanya sekedar pembagian keuntungan, tapi juga jika terjadi kerugian. Bagi Investor, risiko kerugian adalah sebesar modal yang ditanamkan. Sedangkan jika kerugian yang timbul lebih besar, maka menjadi tanggung jawab si pengelola bisnis.

 

Asharyanto/Bimo Prasetio

Ingin berkonsultasi tentang hukum bisnis dan investasi silahkan menghubungi info@smartcolaw.com.