Inter alia, suatu istilah dalam bahasa Latin. Padanan kata dalam bahasa Indonesianya adalah “antara lain” atau “di antaranya” dalam perjanjian. Dalam bahasa Inggris adalah “among  other things”.

Penggunaan “inter alia”, “antara lain”, “di antaranya”, “among other things”, pada dasarnya bermaksud untuk menjelaskan suatu hal yang general dengan menyebutkan hal-hal khusus melalui penguraian contoh atau hal-hal yang termasuk di dalamnya, namun tidak hanya terbatas pada hal-hal yang disebutkan.

Dengan demikian, masih dimungkinkan adanya hal-hal khusus serupa atau contoh lainnya yang termasuk dalam pengertian hal general tersebut. Namun tidak disebutkan dalam uraian.

Untuk maksud ini, sering juga seorang lawyer yang menjadi legal drafter, menggunakan frase “termasuk, namun tidak terbatas pada” atau “includes, but not limited to”.

Sesuai dengan kata-kata pada frase tersebut, maka hal-hal yang disebutkan dalam perjanjian adalah termasuk, namun tidak terbatas pada yang disebutkan.

Suatu draft perjanjian yang baik seharusnya menggunakan suatu istilah yang lebih bisa dimengerti dan dipahami oleh orang awam, bukan hanya untuk kalangan praktisi hukum (konsultan hukum sebagai legal drafter).

Istilah inter alia sendiri lebih sering digunakan dalam statuta dan konvensi-konvensi internasional. Untuk itu, saya pribadi, lebih memilih untuk mengganti “inter alia” dengan padanan kata yang lebih mudah diterima oleh klien dan counterpart, walaupun counterpart juga menggunakan jasa lawyer.

Sebagai contoh:

“8.          Variation

No variation in this Agreement shall be effective unless it is in writing signed by and on behalf of both of the Parties. The expression “variation” as used in the preceding sentence includes, but is not limited to supplement, deletion or replacement, however affected. Variation of this Agreement cannot be effected via email.”

Contoh lainnya:

(4)          Quality inspection as referred to paragraph (1) of this Article shall be As Received, Air Dried basis, and issued at the latest within 7 (seven) working days, including among other things:

  • Total Moisture
  • Inherent Moisture
  • Ash Content
  • Sulphur Content
  • Volatile Matter
  • Fixed Carbon
  • Hardgrove Grindability Index

Pada prinsipnya, yang terpenting adalah Klien haruslah memiliki pemahaman sama terhadap perjanjian yang disusun. Tidak hanya itu, pihak lain dalam perjanjian juga harus memiliki pemahaman yang sama. Jika tidak, bukan tidak mungkin hal seperti ini akan menjurus pada suatu sengketa.

Sekadar saran saja, jika terjadi perbedaan penafsiran dalam suatu perjanjian, untuk menghindari risiko berlitigasi, ada baiknya para pihak meminta Binding Opinion (Pendapat Mengikat) kepada lembaga Arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Selain karena dikeluarkan oleh ahli di bidangnya, Pendapat Mengikat ini memiliki kekuatan yang sama dengan suatu putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.  Harapannya,  para pihak dapat menghindari proses litigasi yang panjang dan melelahkan, belum lagi biaya yang besar.

 

Niken Nydia Nathania/Bimo Prasetio