Tips Menggunakan Keuntungan Perusahaan (Dividen)

Dalam perbincangan dengan beberapa pengusaha yang sudah menjalankan bisnisnya sekitar 5 tahun, ternyata masih terdapat ketidakpahaman tentang bagaimana cara menggunakan keuntungan (laba) perusahaan, yang lazim disebut sebagai dividen.

Ketika setiap keuntungan dari suatu project langsung ditarik pada akhir bulan, atau misalnya setelah project berakhir, perhitungan pajaknya pun akan berbeda. Beberapa pengusaha yang juga menjadi direksi dalam perusahaannya malah “alergi” untuk menetapkan gaji untuknya.

Di sinilah pengusaha perlu melek hukum soal Perseroan Terbatas (PT). Mulai dari organ-organ, hingga pemisahan diri, kapan menjadi pemegang saham dan kapan dirinya menjadi direksi. Sejatinya, direksi dan pemegang saham bisa jadi orang yang berbeda, namun bagi pengusaha yang ingin terlibat langsung dalam keseharian bisnisnya, tentu akan menunjuk dirinya melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai direksi PT.

Tips Menggunakan Keuntungan Perusahaan (Dividen)

Kalaupun tidak ingin menerapkan penggajian terhadap dirinya, bisa saja Dividen dibagikan di tengah tahun dalam bentuk dividen interim. Tapi ada konsekwensinya juga pengambilan dividen ini jika saldo laba tidak positif. Nanti akan kami uraikan lebih lanjut.

Bagaimana cara menggunakan laba?

PT wajib menyisihkan jumlah tertentu dari laba bersih perusahaan pada setiap tahun buku. Tujuan dari penyisihan laba bersih ini sebagai dana cadangan.

Yang dimaksud dengan laba bersih ini adalah keuntungan tahun berjalan perusahaan setelah dikurangi pajak. Namun yang perlu diperhatikan, kewajiban menyisihkan cadangan itu berlaku apabila perusahaan mempunyai saldo laba yang positif.

Dalam Undang-undang No. 40/2007 tentang PT, penyisihan laba bersih dilakukan sampai cadangan mencapai minimal 20% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor. Jika cadangan belum mencapai jumlah tersebut, maka hanya boleh digunakan untuk menutup kerugian yang tidak dapat dipenuhi oleh cadangan lain.

Cadangan senilai 20% ini adalah cadangan wajib bagi PT, yang wajib disisihkan oleh perusahaan setiap tahun buku berjalan. Cadangan wajib dapat digunakan untuk menutup kemungkinan kerugian perusahaan pada masa yang akan datang.

Sebagai catatan, cadangan wajib tidak harus berbentuk uang tunai, tapi bisa juga berbentuk aset lainnya yang mudah dicairkan dan tidak dapat dibagikan sebagai dividen. Bisa berbentuk logam mulia atau lainnya.

Penggunaan laba bersih, termasuk penentuan jumlah penyisihan untuk cadangan, diputuskan oleh RUPS. Seluruh laba bersih setelah dikurangi penyisihan untuk cadangan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen – kecuali ditentukan lain dalam RUPS. Tetap diingat, Dividen hanya boleh dibagikan apabila perusahaan mempunyai saldo laba yang positif.

 

Dividen Interim

Perusahaan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku berakhir jika anggaran dasar PT mengatur soal ini. Lalu bagaimana pembagiannya?

Pembagian dividen interim dapat dilakukan apabila jumlah kekayaan bersih perusahaan tidak menjadi lebih kecil daripada jumlah modal ditempatkan dan disetor ditambah cadangan wajib.

Pembagian dividen interim tidak boleh mengganggu jalannya perusahaan, atau menyebabkan perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada kreditor. Pembagian dividen interim ditetapkan berdasarkan keputusan Direksi setelah memperoleh persetujuan Dewan Komisaris.

Jika setelah tahun buku berakhir ternyata perusahaan menderita rugi, dividen interim yang telah dibagikan harus dikembalikan kepada perusahaan oleh pemegang saham. Dalam hal pemegang saham tidak dapat mengembalikan dividen interim, Direksi dan Dewan Komisaris bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian perusahaan.

Dan terhadap pemegang saham, untuk hak pembagaian dividen selanjutnya akan diperhitungkan kemudian dari pembagian dividen interim sebelumnya.  Itupun kalai perusahaanya pada akhir tahun selanjutnya mempunyai saldo laba yang positif.

Ingin berkonsultasi mengenai aspek hukum bagi bisnis anda, silahkan menghubungi info@smartcolaw.com.